BLITAR, Desa Semen — Isu keterbatasan lahan, pemanfaatan limbah plastik dan pemenuhan gizi pencegah stunting mendorong tim mahasiswa Mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya (MMD UB) di Desa Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, meluncurkan aksi nyata di Desa Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Bersama dengan pengelola dan warga sekitar Bank Sampah Desa Semen, kelompok mahasiswa MMD UB meluncurkan program edukasi dan percontohan Budidaya Ikan dalam Galon (Budikdalon) berbasis akuaponik mini.

Inovasi Budikdalon memanfaatkan galon bekas yang dialihfungsikan (reuse) menjadi wadah ekosistem terpadu yang selaras dengan misi Bank Sampah dalam mengolah sampah menjadi modal produktif serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) dan Sustainable Development Goals (SDGs) 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production).

Dalam proyek percontohan ini, sebanyak sembilan unit galon bekas disulap menjadi wadah ekosistem terpadu. Tiap-tiap galon diisi secara terukur sebanyak 15 ekor benih ikan lele. Untuk menjamin kelangsungan hidup dan mencegah potensi lele stunting, setiap galon dilengkapi dengan fasilitas aerator yang dilengkapi dengan batu aerator guna menjaga ketersediaan oksigen terlarut tetap melimpah, penggunaan aerator ini dilakukan sebagai salah satu bentuk untuk mengatasi permasalahan suhu Desa Semen yang cenderung dingin untuk budidaya ikan lele. Pengolahan airnya pun ditunjang dengan formula probiotik EM4 dan molase untuk mengurai amonia dan menekan pertumbuhan parasit patogen.

Menariknya, konsep Budikdalon ini tak sekadar fokus pada ikan lele di bagian bawah. Pada bagian atas wadah, mahasiswa MMD UB memadukannya dengan budidaya tanaman kangkung. Sebagai tempat tumbuh kangkung, media arang dipilih secara khusus. Alasan mengapa media tana kangkung yang digunakan berupa arang karena arang memiliki fungsi untuk menetralisir dan menstabilkan derajat keasaman (pH) air, selain itu arang juga efektif menyerap racun, mengikat kelembapan, serta menyediakan tempat tinggal yang ideal bagi bakteri pemurai nutrisi tanaman.


Kegiatan program Budikdalon ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pemanfaatan lahan rumah tangga yang sederhana dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Dengan memanfaatkan galon bekas, aerator, EM4, molase, arang, serta tanaman kangkung, Budikdalon dapat dikembangkan sebagai sistem budidaya skala rumah tangga yang ekonomis sekaligus edukatif.

Lewat kolaborasi segar antara mahasiswa MMD Universitas Brawijaya dan Bank Sampah Desa Semen ini, galon bekas tak lagi berujung di tempat pembuangan akhir. Inovasi sederhana ini sukses membuktikan bahwa pemenuhan protein ikan dan sayuran segar skala rumah tangga bisa diproduksi secara beriringan, hemat tempat, dan ramah lingkungan.