Blitar, Desa Semen — Potensi peternakan menjadi salah satu kekuatan yang dimiliki Desa Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Salah satu produk olahan hasil ternak yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat adalah dangke, pangan berbahan dasar susu yang memiliki cita rasa khas dan berpotensi dikembangkan sebagai produk pangan lokal. Melihat potensi tersebut, kelompok Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya menghadirkan program edukasi “Detektif Pangan” (Deteksi Dini Olahan Pangan Desa) untuk memberikan pemahaman mengenai keamanan pangan kepada pelaku UMKM di Desa Semen.

Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi MMD Universitas Brawijaya Tahun 2026 dalam mengenalkan potensi pangan lokal serta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Kegiatan dilaksanakan di Desa Semen dengan pendampingan dan koordinasi Dosen Pembimbing Lapang (DPL), Dr. Ria Dewi Andriani, S.Pt., M.Sc., M.P.

Melalui program ini, mahasiswa memperkenalkan dangke kepada kelompok UMKM Srikandi sebagai salah satu alternatif produk olahan hasil ternak yang dapat menjadi bagian dari potensi pangan lokal Desa Semen. Pengenalan tersebut kemudian dikaitkan dengan pentingnya memahami keamanan pangan dalam proses pengolahan, sehingga masyarakat tidak hanya mengenal dangke sebagai produk pangan, tetapi juga memahami faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar produk dapat diolah secara aman.

Materi yang diberikan mencakup higiene dan sanitasi, Bahan Tambahan Pangan (BTP), kontrol pH, teknik pengemasan dan penyimpanan, serta pelabelan produk. Mahasiswa juga mengenalkan Bahan Tambahan Pangan (BTP) kimia dan alami beserta fungsi penggunaannya secara tepat. Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilih bahan tambahan yang aman dan sesuai peruntukan, sekaligus mengenali bahan berbahaya yang tidak diperbolehkan digunakan dalam produk pangan.

Sebagai bagian dari pengenalan penerapan ilmu kimia dalam pangan, peserta diperkenalkan dengan kontrol pH menggunakan kertas indikator serta indikator alami dari kunyit dan kubis ungu. Melalui demonstrasi sederhana, mahasiswa menunjukkan bagaimana perubahan warna indikator dapat digunakan untuk mengenali kondisi asam atau basa. Materi tersebut membantu peserta memahami bahwa pH merupakan salah satu parameter yang dapat berkaitan dengan kondisi dan keamanan suatu produk pangan.


Selain aspek pengolahan, kegiatan juga memperkenalkan pentingnya pemilihan kemasan dan teknik penyimpanan. Peserta memperoleh informasi mengenai kemasan yang layak untuk pangan, termasuk kemasan food grade, kemasan berbahan PP, serta kemasan vakum. Kemasan kemudian dikaitkan dengan upaya melindungi produk dari kontaminasi dan mempertahankan kualitas selama penyimpanan. Aspek pelabelan dan desain kemasan turut diperkenalkan sebagai bagian dari identitas produk. Informasi yang jelas pada label diharapkan dapat membantu konsumen mengenali produk sekaligus membangun kepercayaan terhadap pangan lokal.

“Kimia tidak selalu buruk, karena segala sesuatu di sekitar kita adalah kimia. Dalam pangan pun demikian, yang penting adalah mengetahui mana yang aman, bagaimana penggunaannya, dan dalam jumlah yang tepat” ujar Belinda salah satu anggota MMD kelompok 58.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta memperoleh pengetahuan baru mengenai dangke sebagai salah satu produk olahan hasil ternak. Peserta juga memahami berbagai aspek dasar keamanan pangan yang dapat diterapkan dalam kegiatan pengolahan. Respons positif dari peserta menunjukkan bahwa pengenalan produk lokal yang disertai edukasi keamanan pangan melalui kontrol pH dapat menjadi sarana untuk meningkatkan wawasan masyarakat mengenai potensi pangan di Desa Semen.

Program Detektif Pangan diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperkenalkan ilmu kimia melalui dangke sebagai bagian dari potensi produk ternak Desa Semen, sekaligus menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya keamanan pangan dalam pengolahan produk lokal. Dengan mengenalkan potensi tersebut, mahasiswa MMD UB turut mendorong masyarakat untuk melihat hasil peternakan tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari potensi ekonomi lokal yang dapat dikenalkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.