BLITAR, 13 Juli 2026 – Belajar agribisnis dan nilai-nilai Quran tidak harus melulu dilakukan di dalam kelas. Melalui program “AGROISLAM Muda: Pembelajaran Terpadu Quran dan Agribisnis”, mahasiswa Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya 2026, Muhammad Rafa Al Fatih Nasution, mengajak anak-anak Desa Semen mengenal dunia pertanian modern sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual.

Kegiatan ini ditujukan bagi anak-anak usia 7–12 tahun peserta TPQ (Taman Pendidikan Quran) Desa Semen. Program dirancang agar peserta memahami bahwa kerja produktif di bidang agribisnis merupakan bentuk ibadah yang sejalan dengan ajaran Quran, khususnya nilai amanah (tanggung jawab), kesabaran, dan kejujuran.



Rangkaian acara dimulai dengan sesi pembelajaran interaktif yang mengintegrasikan ayat-ayat Quran dengan konsep pertanian sederhana. Setelah mendapatkan pembekalan materi, anak-anak langsung mempraktikkan cara bercocok tanam benih sayuran seperti bayam, kangkung, atau sawi di dalam polibag. Setiap anak diberikan kesempatan untuk mengolah media tanam, menanam benih, hingga melakukan penyiraman pertama secara mandiri.


Pembelajaran tidak berhenti di fase tanam. Anak-anak diajak merawat tanaman mereka secara konsisten selama 4 minggu ke depan. Melalui aktivitas harian seperti menyiram, membersihkan rumput liar, dan memantau pertumbuhan anak-anak menginternalisasi makna amanah secara konkret, yaitu menjaga dengan baik apa yang telah dipercayakan kepada mereka.
Melalui program AGROISLAM Muda, anak-anak diharapkan dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai agribisnis dasar dan nilai-nilai Quran yang aplikatif, serta mengubah persepsi bahwa pertanian adalah pekerjaan “kuno” menjadi kegiatan yang modern, bermakna, dan bernilai ekonomis. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang mendukung SDGs Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pengalaman belajar yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan.
Dengan adanya kegiatan ini, anak-anak Desa Semen tidak hanya memperoleh pengalaman baru dalam bercocok tanam dan beragribisnis, tetapi juga diajak untuk menghubungkan nilai-nilai spiritual dengan keterampilan praktis ekonomi sejak dini, sehingga tumbuh menjadi generasi muda yang cerdas secara akademis, kuat secara spiritual, dan mandiri secara ekonomi.